(HOTLIST 2020) 5 Game Esports yang Mampu Bertahan dan Berkembang

– Game-game esports ini mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi pandemi dengan turnamen-turnamennya.
– Manakah game esports favorit kalian di 2020?

Tahun 2020 segera berakhir. Selama setahun belakangan, banyak perkembangan yang ditunjukkan oleh game-game esports di dunia. Dari lahirnya format turnamen baru, hingga meningkatnya pendapatan meskipun di tengah masa krisis pandemi COVID-19. Tentunya, semua hal itu terjadi berkat hasil kerja keras para pengembang demi memajukan game andalannya.

Akan tetapi, dari semua game esports yang hadir, hanya lima yang terbaik yang mampu bertahan dan berkembang di tahun 2020. Kali ini KINCIR akan menjabarkan secara singkat dan mendetail soal prestasi yang mereka raih selama satu tahun ini.

Game esports mana saja kah yang berhasil mencuri perhatian di 2020? Yuk simak pembahasannya di bawah ini!

1. League of Legends

Via Istimewa

Game besutan dari Riot Games ini tidak henti-hentinya menghadirkan beragam hiburan bagi para penggemar terutama di ranah esports. Serangkaian turnamen tahunan pun sukses digelar tanpa hambatan meskipun di tengah masa pandemi. Bisa dibilang, game ini adalah yang paling lancar jaya ketimbang judul-judul lainnya.

Sejauh ini, League of Legends telah menyelesaikan 13 turnamen yang berujung pada Worlds Championship 2020 pada bulan Semptember kemarin. Hebatnya lagi, ajang tersebut menciptakan momen breakthrough dengan digelar secara offline. Di saat para penyelenggara turnamen esports lainnya main aman dengan format online, Riot Games sukses menggelar Worlds Championship 2020 secara offline di Tiongkok.

Total revenue yang berhasil dikumpulkan dari turnamennya saja meningkat dilansir dari Newzoo. Selama tahun 2020, LCS dan LEC membawa peningkatan sebesar 16,7% dan 30%. Angka ini terbilang besar apalagi mengingat League of Legends punya banyak seri turnamen sepanjang tahun.

2. Counter Strike: Global Offensive

Via Istimewa

Valve juga tidak mau kalah dengan Riot Games. Mereka menyelenggarakan turnamen CS:GO secara konsisten di tahun 2020. Akan tetapi, mereka sempat berkecil hati karena harus merombak format kualifikasi untuk turnamen ESL One Rio Major 2020. Sialnya lagi, mereka terpaksa membatalkan acara tersebut mengingat kondisi pandemi yang tak kunjung membaik.

Untungnya, Valve bisa melakukan inovasi. Mengadakan turnamen Regional Ranking membuat jumlah turnamen lebih banyak dari sebelumnya. Meskipun begitu, tidak ada ajang Major yang memiliki nilai prestisius di tahun ini soalnya rangkaian ESL Pro Tour cukup berantakan dan ESL atau Dreamhack harus putar otak agar turnamen-turnamen lainnya dapat terselenggara.

Bisa dibilang, ESL Pro Tour kurang berjalan lancar dan akhirnya kedua penyelenggara tersebut tetap menjalankan proyek masing-masing. Padahal, semenjak diumumkan bekerjasama gelaran esports CS:GO di tahun 2020 akan digelar meriah.

3. Garena Free Fire

Via Istimewa

Meskipun punya citra “game bocil” tapi kita harus akui bahwa Free Fire punya dampak besar di skena esports atau industri game. Mengingat di Asia Tenggara game mobile sangat digandrungi, Free Fire pun punya beberapa prestasi membanggakan. Garena Indonesia patut memelihara game ini karena memiliki pengguna yang begitu loyal.

Di pertengahan tahun 2020, pengguna aktif game per hari mencapai 100 juta pemain! Angka ini pun dimuat dalam laporan SEA Limited’s Second-quarter. Angka fantastis ini terus berkembang sejak perilisannya di tahun 2017 dan terus meningkat hingga tahun 2020. Tentunya, prestasi ini juga berpengaruh terhadap revenue Free Fire.

Apalagi di skena esports, Garena termasuk rajin menggelar serangkaian turnamen baik nasional atau pun internasional. Contohnya ada FFIM 2020 Spring yang dimenangkan oleh tim asal Indonesia yaitu Onic Olympus. Kemudian di ranah Asia ada FFCS Asia Series yang diikuti 12 tim terbaik dari berbagai belahan regional Asia.

Dari segi popularitas, Garena selaku pengembang juga menghadirkan kolaborasi-kolaborasi apik dengan beberapa ikon ternama untuk dijadika karakter in-game. Sejauh ini Joe Taslim adalah aktor asal Indonesia pertama yang dibuatkan karakter bernama Jota, kemudian terakhir ada Christiano Ronaldo yang hadir di dalam game sebagai Chrono.

4. Mobile Legends: Bang Bang!

Via Istimewa

MOBA mobile paling laris di Indonesia ini memang punya nilai prestisius tersendiri bagi para penggemarnya. Tidak sedikit prestasi ditoreh oleh para atlet profesional Indonesia di turnamen kancah internasional.

Contohnya yang baru saja diraih oleh Alter Ego pada gelaran MPL Invitational 2020. Kemudian, di tiap regional Asia Tenggara juga telah digelar ajang musiman bertajuk Mobile Legends Professional League yang menjadi franchise league dari Moonton.

Dampaknya pun cukup baik untuk skena esports game ini. Soalnya, dari format tersebut terlahir berbagai macam turnamen yang melibatkan peserta yang tersebar dari seluruh negara. Bahkan di Indonesia juga lahir turnamen kasta dua bertajuk Mobile Legends Development League yang telah bergulir dua musim.

Prestasi lainnya yang membuktikan kepopuleran Mobile Legends adalah pada saat gelaran turnamen MPL Seasn 6 babak Grand Final ditonton oleh lebih dari lima juta viewers! Hal ini tercatat pada akun Youtube resmi Mobile Legends: Bang Bang!

5. PUBG Mobile

Via Istimewa

Rencana Tencent untuk tahun 2020 yang dipublikasi pada babak Grand Final PMCO Fall Split Global Final 2019 sepertinya berjalan cukup mulus. Pasalnya, dari susunan rangkaian rencana turnamen mereka sudah banyak yang terwujud. Salah satunya ajang kejuaraan dunia PUBG Mobile Global Championship 2020.

Rangkaian Global Final yang digadang oleh Tencent Games juga terlaksana lewat PUBG Mobile Profesional League di tiap regional yang berujung pada kejuaraan dunia tahun depan nanti. Secara perkembangan, PUBG Mobile terbilang konsisten meningkat dari segi popularitas maupun pendapatan.

Tercatat di Sensor Tower hingga akhir sepekan lalu, PUBG Mobile mencetak pendapatan sebesar 189 juta dolar (setara Rp2 triliun). Tentunya, hasil ini menutup tahun Tencent Games dengan sempurna. Semua turnamen berjalan dengan lancar tanpa terhambat oleh panemi COVID-19. Kemudian, kasus pemblokiran di India juga telah diselesaikan dan kembali bisa dimainkan oleh para player di sana.

Bonus: Kenapa Dota 2 tidak termasuk?

Tahun ini game Dota 2 tidak berkembang sama sekali setelah di tahun 2019 banyak mencetak prestasi. Game besuatan Valve ini kurang sukses seperti judul lainnya, yatu CS:GO. Mungkin, tahun ini adalah sejarah terburuk bagi segala aspek Dota 2. Dari gelaran DPC yang dibatalkan hingga berujung ke ketiadaan turnamen akbar tahunan mereka yaitu The International.

Patut diacungi jempol untuk kelima game esports di atas, Meskipun kondisi dunia saat ini sedang diselimuti pandemi COVID-19, mereka bisa bertahan dan terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi. Tentunya, ada beberapa pengorbanan yang harus berikan contohnya mengubah format turnamen dari offline ke online.

***

Bagaimana menurut kalian? Silakan tulis pendapat di kolom komentar, ya! Jangan lupa untuk terus pantau KINCIR agar kalian tidak ketinggalan berita terbaru seputar esports dan game lainnya.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.