7 Bintang Film Indonesia yang Ngaku Sulit Akting Nangis

– Para aktor-aktris film Indonesia di bawah ini akui tantangan besarnya.
– Berbagai metode mereka lakukan, sampai rela ditampar sutradara.

Berakting itu bukan perkara mudah. Setiap aktor yang terjun ke dunia peran harus sanggup melakoni berbagai macam karakter yang mungkin keluar dari sifat asli si aktor. Sejumlah adegan mesti mereka lakoni: senang, marah, dan sedih.

Nah, barangkali akting sedih sampai menangis jadi salah satu hal yang paling sulit dilakoni. Beberapa aktor dan aktris film Indonesia di bawah ini contohnya. Mereka mengaku bahwa akting nangis jadi hal yang paling sulit dilakukan saat menerjemahkan skrip. Siapa saja mereka?

1. Fedi Nuril (Ayat-ayat Cinta 2)

Nama Fedi Nuril mencuat ketika membintangi Fahri di Ayat-ayat Cinta (2008). Padahal sebelum film fenomenal itu, Fedi sudah bintangi film Mengejar Matahari (2004) dan Janji Joni (2005). Sekarang, nama Fedi sudah masuk jadi salah satu aktor top Tanah Air. Meski begitu, dia mengaku bahwa hal tersulit dalam berakting adalah ketika dia harus nangis di depan kamera.

Menurut Fedi Nuril, hal tersulit dari akting menangis adalah ketika air mata yang sudah berhasil menggenang di matanya, harus netes tepat ketika dialog. Proses itu yang melelahkan dan mungkin proses pengambilannya mesti berulang kali.

Kesulitan tersebut dialami Fedi saat syuting film Ayat-ayat Cinta 2 (2017). Malah baginya, bukan hanya akting nangis yang sulit, tapi semua adegan di film tersebut. Fedi merasa karakter Fahri enggak dikasih ‘napas’ alias terus-terusan ada konflik.

2. Sheryl Sheinafia (Galih dan Ratna)

Dara muda yang bersinar di industri musik memang kelihatan punya masa depan di belantika perfilman Indonesia. Pasalnya di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Sheryl sudah bintangi beberapa film Indonesia populer, seperti Marmut Merah Jambu (2014), Koala Kumal (2016), Galih dan Ratna (2017), sampai Bebas (2019).

Meski begitu, Sheryl mengaku kesulitan akting nangis. Baginya menangis di depan kamera juga kru yang lain dalam penggarapan sebuah film adalah tantangannya.

Seperti saat dia melakoni peran Ratna dalam film Galih dan Ratna, dirinya harus membayangkan sedang dimarahi ibunya dulu supaya dapat hawa sendu di dalam dirinya. Bahkan demi mengumpulkan sedih, Sheryl bisa menggalau sampai beberapa hari.

3. Restu Sinaga (Bahwa Cinta Itu Ada)

Restu Sinaga jadi salah satu aktor film Indonesia yang namanya mulai bersinar di tahun 2000-an ketika bintangi Cinta Silver (2005). Restu memang jago dalam urusan berakting, terlebih dalam film drama romantis. Buktinya, Restu sudah bintangi 15 film layar lebar, 18 FTV, dan delapan sinetron.

Di balik hal itu, ternyata dia punya kelemahan ketika harus berakting menangis. Aktor kelahiran 1974 itu mengaku enggak berhasil menangis di film Bahwa Cinta Itu Ada (2010). Bahkan, sampai jadi ‘bulan-bulanan’ Sujiwo Tejo yang saat itu jadi sutradara.

Meski begitu, Restu enggak akan kapok jika ada sutradara yang mewajibkan dia harus bisa menangis. Justru, hal itu dia jadikan sebagai tantangan. Namun kini, Restu Sinaga lagi asyik bekerja di belakang layar. Salah satunya sebagai asisten produser dalam film Mama Mama Jagoan (2018).

4. Dimas Anggara (London Love Story)

Dimas Anggara juga mengaku bahwa akting nangis bukan perkara yang mudah. Aktor yang bintangi film London Love Story (2016) ini merasa bahwa untuk menangis dalam film membutuhkan waktu yang lama. Ketika Dimas beradu akting dengan Michelle Ziudith, Dimas merasa bahwa lawan mainnya itu lebih bisa mengatur diri supaya benar-benar bisa pecah saat menangis.

Jadi, enggak salah jika Dimas mesti mengambil adegan berulang kali supaya hasil kesedihan dan momen nangisnya benar-benar sempurna. Bahkan, dirinya mesti minta waktu beberapa saat sebelum syuting supaya ketika mulai berakting sedih, bisa langsung dapat.

5. Chelsea Islan (Refrain)

Salah satu aktris film Indonesia populer Tanah Air, Chelsea Islan, memang punya bakat berakting yang enggak tanggung-tanggung. Dia sanggup berakting di genre drama, komedi, bahkan horor. Total, ada 12 film layar lebar, satu sitkom, dan satu pertunjukan teater adaptasi novel “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” karya Pramoedya Ananta Toer.

Meski sudah banyak portofolionya, Chelsea mengaku bahwa akting menangis adalah salah satu yang tersulit yang harus dia lakukan. Salah satunya, ketika dia bintangi film Refrain (2013). Dia butuh waktu beberapa saat untuk benar-benar mendalami dialog dan akhirnya menangis di depan kamera.

Kadang untuk bisa nangis, dia harus buka memori haru di kepalanya supaya perasaanya bisa sedih. Cara ini sudah diterapkannya, termasuk ketika berteater, Chelsea akan mengatur otaknya supaya bisa sedih dan menangis secara natural.

6. Adipati Dolken (3 Dara)

Berperan di film 3 Dara (2015) bagi Adipati Dolken memang jadi tantangan sendiri. Dia mesti bisa memerankan dirinya sebagai seorang perempuan, butuh referensi khusus supaya dapat mendalami karakter.

Selain itu, Adipati juga kesulitan saat harus berakting menangis. Baginya, menangis itu jadi sesuatu yang enggak gampang. Perlu waktu dan perlu pendalaman ekstra supaya bisa benar-benar terlihat natural.

Hal itu juga yang jadi kesulitan sutradara Ardy Octaviand ketika Adipati dimintanya untuk menangis. Pria asal Bandung itu dirasa belum bisa berakting menangis secara natural. Meski begitu, perannya di 3 Dara berhasil memukau. Buktinya, dia dapat nominasi “Pemeran Utama Pria Terbaik” di Indonesia Box Office Movie Awards 2016.

7. Adhisty Zara (Keluarga Cemara)

Adhisty Zara, perempuan yang namanya belakangan merangsek jadi salah satu aktris yang aksinya dinanti sama banyak penonton. Zara bisa bawa emosi penonton di sejumlah filmnya mulai dari Keluarga Cemara (2018), Dua Garis Biru (2019), sampai Mariposa (2020).

Khusus di Keluarga Cemara, Zara berhasil bikin banyak penonton nangis. Padahal dirinya sendiri mengaku kesulitan saat berakting nangis. Zara mengatakan bahwa untuk bisa nangis dia harus merasa kalau dirinya memang benar-benar dalam posisi sulit, tertekan, atau kecewa. Hal itu harus dibawa sampai take film dimulai.

Honorable Mention: Aming dalam Doa yang Mengancam sampai Masuk Nominasi Festival Film Indonesia

Dalam film Doa yang Mengancam (2008), Aming juga mengaku kesulitan menangis. Bahkan, Aming sampai harus menerima perlakuan “kejam” dari sang sutradara, Hanung Bramantyo. Berperan sebagai kuli panggul yang hidupnya menderita, Aming diharuskan menangis terus-menerus hingga dia kesulitan mengeluarkan air mata.

Agar bisa membuatnya menangis, Hanung sampai menampar Aming saat proses syuting. Berkat hal itu, Doa yang Mengancam jadi pembuktiannya sebagai aktor film Indonesia serbabisa. Aming banjir pujian dan masuk jajaran nominasi "Pemeran Utama Pria Terbaik" di Festival Film Indonesia 2008 dan "Pemeran Utama Pria Terpuji" di Festival Film Bandung 2009.

***

Memang bukan perkara mudah buat pura-pura nangis dan melakukan dialog yang sedih supaya penonton ikut terbawa suasana. Makanya, akting nangis selalu jadi tantangan buat banyak bintang film Indonesia. Nah, kalau kamu yang jadi aktor film Indonesia, kira-kira, menangis akan jadi kesulitan terbesarmu, enggak?

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.