Film Horor yang Gagal Horor

Bikin film horor itu bisa dibilang susah-susah gampang. Semua unsur, mulai dari cerita, sinematografi, latar, sampai kemampuan berperan setiap pemainnya harus seimbang banget demi menciptakan ketegangan yang sesuai. Kalau salah satu aja yang menonjol, hasilnya enggak bakal maksimal. Belum cukup sampai di situ, film horor juga harus mampu mainin ketakutan terbesar manusia dengan scoring yang pas. Susah, deh, pokoknya. Banyak banget film horor yang pada akhirnya mendapat kritik pedas karena enggak berhasil jadi “horor”.

Ada banyak banget, sih, film “horor”, khususnya film Indonesia, yang sebetulnya jauh dari kata horor. Yah, mau bagaimana? Indonesia pernah masuk ke masa suram perfilman, ketika yang dijual cuma paha sama dada (pastinya bukan paha dan dada ayam). Kali ini Viki bakal ambil beberapa film horor yang sensasional, tapi enggak horor sama sekali. Jangankan bikin merinding, yang ada lo bakal ketawa ironis sepanjang film.

 

1. Beranak dalam Kubur (1972)

Ini filmnya sang legenda film horor Indonesia, mendiang Suzanna. Di film ini, seperti biasa, Suzanna jadi hantu gentayangan. Kalau biasanya lo melihat Suzanna sebagai Mbak Kunti atau Mbak Sundel Bolong, di film ini dia berperan sebagai Lila, seorang perempuan yang jadi korban kakak tirinya yang gila harta. Kakaknya, Dhora (Mieke Widjaja), sejak kecil tak pernah menyukai Lila. Saat suami Lila pergi ke luar negeri, Dhora mulai mencelakakan Lila dengan mendorongnya ke sungai. Tak berhasil, malamnya dia kembali mencoba membunuh Lila dengan menyiramkan air keras ke wajah Lila. Hasilnya, Lila yang saat itu sedang hamil dikubur hidup-hidup dan secara harfiah beneran beranak di dalam kubur.

Kenapa film ini gagal horor? Soalnya, ternyata enggak ada setan sama sekali di film ini. Akhir filmnya pun bisa dibilang cukup tragis dan malah bikin sedih. Uniknya, film ini sempat dibuat remake pada 2007 dan sama sekali jauh dari kata sukses. Kalau mau dibandingin, sih, memang versinya mendiang Suzanna jauh lebih kece dari segi cerita. Namun, film ini lebih cocok jadi film drama daripada horor.

 

2. Suster Keramas (2009)

Mungkin lo pernah dengar film yang sempat jadi sensasi pada 2009 ini. Bagaimana enggak jadi sensasi, yang ngebintangin film ini aja adalah salah satu artis JAV paling populer, Rin Sakuragi. Hasilnya, banyak yang nonton film ini bukan karena mau lihat film horor, melainkan mau lihat aksi Rin di sini. Benar aja, film ini bertabur fan service di mana-mana! Lagi pula, bagaimana caranya, sih, suster yang lagi keramas bisa jadi setan? Lihat judulnya aja, seharusnya lo udah curiga bahwa ini sama sekali bukan film horor, melainkan film berkedok horor yang sepertiga JAV.

 

3. Sadako vs. Kayako (2016)

Lihat Sadako atau Kayako aja dalam satu film sebetulnya udah cukup bikin lo enggak berani tidur sendirian. Lah, ini, ada Sadako dan Kayako dalam satu film. Menurut lo, bakal horor atau konyol? Ternyata, film ini jadi enggak horor sama sekali dan malah terlihat konyol. Viki sempat penasaran, sih, dan ikutan nebak-nebak soal gimana caranya Sadako sama Kayako bisa berantem. Tebakan Viki pun ternyata enggak melenceng jauh. Jadilah Sadako vs. Kayako sebagai film horor yang terlalu gampang ditebak, mengulang formula yang sama dari film-flm sebelumnya, dan malah cenderung konyol. Viki jamin, lo enggak bakal takut lihat Sadako sama Kayako di sini. Suasananya jadi kayak Scary Movie gitu, deh.

 

4. Book of Shadows: Blair Witch 2 (2000)

Ini adalah salah satu film yang kena kutukan sekuel, terutama karena film pertamanya memang kece banget. The Blair Witch Project adalah salah satu film horor yang cukup orisinal dengan metode pengambilan gambar berupa found footage. Film ini jadi film berbujet rendah dengan pendapatan yang di luar dugaan. Selain cukup sukses di pasaran, film ini juga menuai banyak kritikan positif. Kesuksesan film pertama pun bikin sekuelnya masuk daftar produksi dan dinantikan. Sayang, hasilnya di luar ekspektasi.

Book of Shadows bisa dibilang jadi sekuel yang terburu-buru dirilis saat Halloween. Dengan momentum yang dikira tepat, ternyata film ini sama sekali enggak bisa ngulang kesuksesan film pertamanya. Hal pertama yang patut disorot adalah akting pemainnya yang biasa aja. Jelas banget kalau dibandingin sama akting para pemain film pertama yang natural banget (jelas natural, soalnya mereka sama sekali enggak tahu skripnya), akting para pemeran sekuelnya ini cukup menyedihkan. Kedua, film ini juga enggak ngelanjutin metode found footage dan ngegantinya dengan cara pengambilan gambar orang ketiga yang biasa. Jelas, sisi horornya mau enggak mau ikut menurun drastis. Film ini bahkan menangin piala Golder Raspberry Awards sebagai “Worst Remake or Sequel”. Sakit, sih.

 

5. Paranormal Activity (Movie Series)

Serius, ini salah satu franchise paling enggak-kreatif-tapi-konsisten yang pernah ada. Dari seri pertama sampai keenam, film ini beneran pakai found footage yang dipasang di sekeliling rumah buat ngungkap kekhawatiran yang dirasain orang-orang di rumah. Seri pertama yang merupakan perkenalan cukup sukses karena udah lama banget enggak ada film horor dengan found footage yang terasa cukup realistis kayak gitu. Meski begitu, buat Viki, sih, film ini ngebosenin banget karena terlalu lambat, sepi, dan kurang tegangan. Lo enggak bosan sepanjang film cuma lihat kamera yang dipasang bergantian dengan sedikit kejutan enggak berarti?

Sebetulnya, film ini bukannya tanpa ketegangan. Ketegangan yang dibutuhin baru tampil menjelang film berakhir. Terlambat banget! Sebelum sampai ke situ, lo udah tidur nyenyak.

***

Bikin film emang susah-susah gampang, sih. Salah satunya, ya, kayak film horor ini. Kalau enggak bisa mainin ketegangan, cerita, latar, ditambah akting pemainnya, ya bakalan enggak sampai, deh, rasa takutnya ke penonton. Contoh gampangnya, sih, film-film ini. Namun, film-film ini bukan yang terburuk, ya. Yang terburuk bisa dibahas di tulisan lainnya.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.