Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama

Dua pemain Akhirat: A Love Story ternyata pernah menjalani cinta beda agama!


Fantasi bisa dibilang sebagai genre yang belum umum digunakan di perfilman Indonesia. Itulah sebabnya, Base Entertainment dan Studio Antelope membuat gebrakan dengan merilis film drama romantis pertama di Indonesia berjudul Akhirat: A Love Story (2021). Film ini juga menjadi debut film panjang untuk sutradara Jason Iskandar, sosok yang salah satu film pendeknya, yaitu Elegi Melodi (2018), berhasil masuk nominasi “Film Pendek Terbaik” Festival Film Indonesia 2018.

Proyek ini merupakan kolaborasi kedua antara Adipati Dolken dan Della Dartyan setelah keduanya berhasil bikin baper penonton lewat Love for Sale 2 (2019). Selain kedua aktor tersebut, Akhirat: A Love Story juga dibintangi oleh Verdi Solaiman, Windy Apsari, Vonny Anggraini, Ravil Prasetya, Tubagus Ali, dan deretan aktor lainnya.

Akhirat: A Love Story berkisah tentang Timur (Adipati) yang menjalin cinta beda agama dengan Mentari (Della). Di tengah perjuangan mereka menjalani perbedaan, Timur dan Mentari mengalami kecelakaan sehingga membuat keduanya koma. Dalam keadaan koma, pasangan kekasih tersebut ternyata terdampar di persimpangan antara alam manusia dan alam baka. Lantas, bagaimana kisah cinta mereka?

KINCIR mendapatkan kesempatan mengobrol dengan dua pemain Akhirat: A Love Story, Ravil Prasetya dan Tubagus Ali. Apa yang seru dan gimana pengalaman mereka dalam film ini? Yuk, simak obrolan kami berikut ini:

KINCIR: Bisa ceritakan dan deskripsikan tentang karakter kamu di Akhirat: A Love Story?

Ali: Saya berperan sebagai Aria. Aria adalah seorang penghuni akhirat dan terhitung baru menjadi penghuni akhirat. Makanya dia masih belum mengerti akhirat itu sistemnya seperti apa dan lain-lainnya. Dia masih mempelajari itu. Istilahnya, Aria ini adalah anak magang, karakternya kikuk, dan dia punya senior bernama Pak Gotot yang diperankan oleh Yayu Unru. Jadi, saya banyak tektokan dengan Pak Gotot.

Ravil: Saya berperan sebagai Herman. Herman ini adalah karakter awet muda, setia, dan saya tektokannya dengan Vonny Anggraini. Sisanya nonton saja di Akhirat. Herman termasuk penghuni akhirat yang paling lama.

Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story
Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story Via Instagram.

KINCIR: Akhirat: A Love Story bisa dibilang sebagai film fantasi romantis pertama di Indonesia. Dari kamu, nih, apa hal magical yang bakal didapatkan penonton dari film ini?

Ali: Hal magical dari mulai proses syutingnya itu sendiri aja sudah magical. Banyak hal yang Jason Iskandar (sutradara) sempat ceritain bahwa jadwal pemain dan lain-lain itu tiba-tiba semuanya cocok. Mulai dari jadwalnya terus pengisian musik itu sendiri juga magical banget.

Mungkin magical yang akan didapatkan penonton itu bakal beda-beda nantinya. Ada yang jadi ingin berjuang lagi dengan hubungannya masing-masing, enggak hanya ke pasangan yang mungkin memiliki perbedaan yang banyak, tetapi juga ke orang tua. Jadi di cerita ini enggak hanya menceritakan tentang hubungan Timur dan Mentari, tetapi juga tentang peran-peran penting dari orangtua mereka masing-masing.

Ravil: Kayaknya sudah diambil semua, nih. Saya nambahin aja, ya, (Hal magical) balik lagi ke semua karakter. Bagaimana Della dan Adipati dipasangkan lagi. Saya pribadi dengan lawan main saya, Mbak Vonny, kita juga banyak kesamaan dari segi energi ketika bertemu. Ini intermezzo saja, ya. Kita ternyata punya tato yang sama di dada dan banyak kesamaan lainnya.

Ali: Hal magical lainnya adalah bagaimana perbedaan manusia di dunia dan manusia ketika di akhirat, tempat Timur dan Mentari bisa dibilang terdampar.

KINCIR: Bagaimana proses kamu dalam pendalaman karakter? Apakah ada film atau karakter dari film lain yang menjadi inspirasi kamu?

Ali: Saya ada cari referensi, selain dari observe beberapa cerita tentang akhirat itu sendiri. Kalau dari film ambil referensi dari The Grand Budapest Hotel (2014) dan dari serial Brasil judulnya Nobody’s Looking. Saya memang mengambil referensi dari situ dan sisanya saya buat sendiri latar belakang karakternya.

Ini, ‘kan, cerita fantasi jadi orang punya imajinasi banyak banget dan berbeda. Mungkin orang-orang yang nonton juga punya imajinasi akhirat yang berbeda. Sebenarnya enggak sepenuhnya buat sendiri tetapi bareng Mas Jason karena ini fantasi yang dibuat oleh dia.

Ravil: Saat workshop atau reading, saya banyak bertanya dengan Mas Jason. Ini mau diarahin ke mana si Herman. Terus juga banyak ngobrol sama Mbak Vonny. Ada berapa film juga yang menjadi panduan karena saya suka film romantis yang berlatar belakang zaman dulu, seperti Atonement (2007) dan The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society (2018). Sisanya, karena ini film fantasi romantis, tentunya imajinasi saya dan imajinasi Mas Jason harus bertemu. Saya juga kasih referensi bagaimana suara dan cara bicara Herman karena dia meninggalnya di masa lampau.

KINCIR: Bagaimana pengalaman kamu diarahkan oleh sutradara Jason Iskandar?

Ali: Mas Jason orangnya asyik, sih. Kami banyak ngobrolin tentang imajinasi akhirat itu sendiri seperti apa. Kami akhirnya mengerti tentang akhirat yang mau digambarin Mas Jason.

Menurut saya, Mas Jason sudah membayangkan persis seperti apa akhirat, ‘kan, Mas Jason juga yang menulis naskahnya. Jadi, Mas Jason sudah punya pengalaman dan keresahan sebelumnya yang menjadi latar belakang pembuatan cerita itu sendiri. Dari muncul keresahan ketika Mas Jason baru menikah, bulan madu, dan lainnya; sampai berpikir, cinta itu bakal selamanya, enggak, sih? Apakah sampai di akhirat kelak kita masih bersama atau enggak?

Ravil: Setuju (dengan Ali). Mas Jason kasih ruang ke kita untuk bereksplorasi. Namun balik lagi, ada benang merah dari Mas Jason tentang cerita latar belakangnya. Sisanya dia memberikan cukup ruang.

Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story
Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story Via Instagram.

KINCIR: Bagaimana pengalaman kamu bekerja sama dengan Adipati Dolken dan Della Dartyan?

Ali: Sama Adipati, kami sudah pernah bekerja sama dua kali. Jadi sudah kenal dari sebelumnya. Kalau sama Della, nih, yang baru. Kami enggak kenal dekat jadi tahunya dari nonton film Della sebelumnya. Ternyata Della aslinya menyenangkan banget, asyik, heboh, dan ceria banget.

Ravil: Pengalaman saya sendiri dari reading, Adipati kasih ilmu karena ada adegan yang sangat intim antara saya dan dia. Dengan pengalamannya yang cukup panjang, kami jadinya banyak ngobrol. Kami semua harus bersinergi karena kami semua energinya besar.

KINCIR: Apa tantangan kamu dalam memerankan karakter Herman dan Aria?

Ravil: Tantangannya, saya harus melakukan banyak riset, dari segi suara, ditambah lagi Herman meninggalnya sudah lama banget. Jadinya, ‘kan, harus menonton film yang mendekati. Sisanya, jangan sampai Ravil bukan Herman. Untungnya, dibantu dengan banyak kesamaan. Banyak yang bilang kalau Herman itu old soul dan saya pun juga begitu.

Ali: Saya lebih ke medan di lokasi syuting karena harus banyak berolahraga. Kami banyak lari-larian dan bajunya kurang mendukung. Untungnya, tetap menyenangkan banget, sih. Lari-larian tetapi tetap asyik.

Ravil: Sama ini kali, ya. Sirkulasi udara di ruangan yang ada di akhirat agak kurang. Ditambah lagi, semua kru harus pakai masker. Lokasi tersebut jadinya cukup menguras energi karena udaranya pengap.

KINCIR: Akhirat: A Love Story menghadirkan kisah cinta beda agama yang pastinya dekat dengan masyarakat Indonesia. Selain topik tersebut, apakah ada pesan penting lainnya yang juga disampaikan dari film ini?

Ali: Pastinya. Yang disampaikan di Akhirat: A Love Story ini enggak hanya long different religion, tetapi juga long distance relationship itu sendiri, yaitu perbedaan antara dunia dan akhirat. Ini beda dunianya benar-benar sulit untuk dihubungkan.

Ravil: Polemiknya enggak hanya agama, tetapi polemik sesama manusia itu sendiri dan budaya. Ada banyak budaya, ‘kan, di Indonesia. Nah, itu juga dimasukkan.

Ali: Sampai strata sosial juga masalah ekonomi karena setiap keluarga, ‘kan, mempunyai budaya yang berbeda. Jadi banyak perbedaan yang ditampilkan, tetapi diperlihatkan bagaimana cinta bisa memperjuangkan itu semua.

Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story
Cerita Tubagus Ali dan Ravil Prasetya tentang Pengalaman Cinta Beda Agama di Akhirat: A Love Story Via Instagram.

KINCIR: Kalian sendiri punya pengalaman cinta beda agama?

Ravil: Saya pernah saat SMA tetapi tidak mendalami. Dulu, ‘kan, pacaran saja. Namun makin ke sini, yang penting yakin dulu. Menurut saya, cinta itu enggak punya agama tetapi cinta itu menyatukan.

Ali: Saya pernah waktu SMP. Lumayan, ‘kan, buat wawasan juga supaya tahu perbedaan dan kesamaannya. Kalau sudah serius, saya enggak mau beda agama. Kalau beda keyakinan lainnya mungkin iya. Saya yakin sayang dengan dia, tetapi dia enggak yakin sayang dengan saya.

KINCIR: Apa pesan kalian buat pembaca KINCIR supaya tertarik nonton Akhirat: A Love Story?

Ali: Saya mau nambahin bahwa Akhirat: A Love Story juga tentang kesempatan kedua. Bagaimana kamu hidup di dunia, apa yang sudah kamu lakukan, dan ketika kamu meninggalkan dunia menuju akhirat, kira-kira ada penyesalan atau hal yang belum kamu lakukan di dunia sampai kamu berharap jika kamu bisa lakukan lebih banyak atau lebih baik.

Ravil: Ayo balik lagi ke bioskop. Film ini dibuat dengan cinta. Semoga film ini sampai ke hati banyak penonton dan sampai bertemu di akhirat!

***

Jadi semakin penasaran dengan Akhirat: A Love Story? Kalian bisa menonton film ini di bioskop mulai 2 Desember 2021. Sampai jumpa di bioskop!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.