Muthia Zahra, Kreator Serial Jadi Ngaji yang Banting Setir Jadi Sutradara

– Bagaimana perjalanan karier Muthia Zahra sebelum jadi sutradara serial Jadi Ngaji ?
– Apa yang bisa dicontoh dari Muthia Zahra untuk para calon filmmaker?

Awal Oktober ini, GoPlay menyuguhkan konten orisinal terbaru, yakni serial Jadi Ngaji yang jadi serial religi pertamanya. Serial ini dikemas dengan unik dan ringan untuk memperkenalkan esensi beribadah bagi para milenial.

Serial yang digarap oleh filmmaker pendatang baru, Muthia Zahra Feriani, ini begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. Bercerita tentang Lukman (Shandy William), seorang gamer yang sedang pusing karena terlilit utang. Akhirnya, Lukman mengikuti saran sang ayah, Baba (Tabah Penemuan) untuk mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam serial ini, Muthia ditunjuk sebagai showrunner, sutradara, dan penulis naskah.

Sutradara muda yang serial pertama garapannya sudah memasuki episode ke-5 ini ternyata juga memiliki kisah hidup yang tak kalah menarik. Melalui sesi bincang-bincang santai GoPlay dengan Arseri Creative House yang didirikannya, Muthia bercerita bahwa sebelumnya dirinya adalah seorang pengacara yang kemudian nekat berbelok arah jadi sutradara. Mengejutkan, bukan?

Yuk, mari simak kisah perjalanan karier Muthia Zahra dan kenal lebih dekat dengan kreator serial Jadi Ngaji ini!

Pertama Kali Kenal Sastra Kelas 4 SD

Via Instagram

Sejak kelas 4 SD, Muthia enggak jauh-jauh dari dunia sastra, khususnya puisi. Dia memang suka menulis dan gurunya pun melihat potensi tersebut. Dirinya pun sering diikutsertakan dalam perlombaan puisi antarsekolah hingga akhirnya menjadi juara. Semenjak itu, Muthia selalu menjadi perwakilan sekolah selama tiga tahun berturut-turut.

“Buat saya saat itu, puisi merupakan sebuah kebanggaan masa kecil. Ada rasa seru, tertantang, sekaligus keasyikan tersendiri ketika saya bisa mengekspresikan ide-ide melalui tulisan. Apalagi ketika ide saya ternyata mendapatkan apresiasi dari orang lain. Ini menjadi titik awal saya menyukai sastra, dan jembatan pertama yang membawa saya ke pengalaman selanjutnya ke dunia musik dan film,” cerita Muthia.

Tak Direstui Orangtua Mendalami Bidang Seni

Via Instagram

Walaupun Muthia sejak kecil begitu menggemari dunia seni, keinginannya belajar lebih dalam bidang seni terpaksa kandas karena tidak disetujui orang tuanya. Mereka lebih menginginkan Muthia sekolah hukum. Namun, di bidang hukum ini Muthia berhasil berprestasi dengan meraih predikat cumlaude dalam masa perkuliahan yang hanya 3,5 tahun.

Selain itu, di sana dia justru bertemu dengan teman-teman yang memiliki kesamaan hobi. Mereka pun kemudian membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) khusus untuk seni pertama yang diberi nama Law.s and Art Performers.

“Di masa ini, keseharian saya adalah teater, musik, drama musikal, dan kuliah. Saya mulai aktif menulis naskah, membuat pertunjukan, dan menulis lagu. Namun, tekad utama saya adalah tetap mendapatkan nilai akademik yang baik seperti janji saya pada ibu, walaupun porsi tidur saya menjadi sangat minim hanya 2—3 jam sehari,” kenang Muthia.

Pertama Jadi Sutradara dengan Angkat Kisah Munir

Via Istimewa

Sebagai salah satu pendiri Law.s and Art Performers, Muthia ditantang membuat pertunjukan seni untuk dilombakan antarfakultas. Di kesempatan pertamanya sebagai sutradara ini, Muthia menampilkan kisah pejuang hak asasi manusia, Munir yang dibuat dengan gaya pop.

“Di sini, saya berusaha menciptakan suatu pertunjukan dengan gaya baru namun tetap menjaga nyawa utamanya, seputar hukum, sosial, dan politik. Surprisingly, para juri memberikan apresiasi tinggi,” ungkap Muthia. Sejak debutnya tersebut, Muthia bersama timnya rutin mengikuti perlombaan tahunan dan selalu sukses keluar sebagai pemenang.

Muthia Tolak Kerja Sebagai Pengacara

Via Instagram

Meskipun berprestasi di bidang hukum, Muthia justru dihadapkan dengan dilema dalam memutuskan jenjang karier. Pergolakan batin dia rasakan karena di benaknya, seni, film, dan musik sudah pasti tidak bisa menjadi pekerjaan utama karena ditentang orangtuanya. Di sisi lain, dia sudah mendapat tawaran sebagai pengacara di firma hukum ternama dan menjadi asisten dosen sambil mempersiapkan beasiswa kuliah di luar negeri.

“Saya akhirnya memilih untuk menjadi asisten dosen begitu lulus kuliah sambil terus menimbang dan berpikir kembali langkah karier yang akan saya pilih selanjutnya. Di tahap ini, saya masih terus menulis naskah teater dan lagu. Sambil terus meyakinkan ibu mengenai keinginan saya untuk meniti karier di bidang seni yang memang saya sukai,” cerita Muthia.

Perjalanan karier Muthia pun berliku-liku. Mulai dari pengacara untuk bidang hak kekayaan intelektual (HKI), membangun EO bersama kakaknya, sampai membuka kafe susu. Pada 2016, Muthia mulai kembali menekuni bidang sendi dengan menulis naskah pertunjukan untuk kompetisi yang digelar Galeri Indonesia Kaya. Di sana, dirinya berhasil tampil sebagai finalis.

Selain itu, Muthia juga aktif mengikuti workshop di Wahana Kreator sambil belajar menulis skenario bersama sineas Salman Aristo. Kariernya di bidang seni pun semakin lama semakin menanjak, mulai dari membuat film pendek, menjadi produser dan sutradara untuk video musik musisi ternama, seperti Mocca, BCL, dan lainnya. Terakhir, proyek terbarunya adalah kolaborasi dengan layanan video-on-demand milik GoJek dalam pembuatan serial Jadi Ngaji.

Sutradara Malaysia, Yasmin Ahmad, Jadi Inspirasi Bagi Muthia

Via Istimewa

Semakin lama mendalami karier di dunia seni, pandangan dan prinsipnya terhadap seni pun berubah. Awalnya, dia menjadikan seni hanya sebagai sebuah hobi yang menyenangkan. Namun, seiring bertambah pengalamannya, Muthia merasa bahwa yang terpenting adalah karyanya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi rekam jejak yang bisa diperlihatkan untuk anaknya nanti.

Salah satu sosok yang menjadi inspirasi sekaligus panutan baginya di dunia industri film adalah sutradara ternama dari Malaysia, Yasmin Ahmad. Menurutnya, Yasmin berhasil menciptakan karya-karya yang enggak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki ciri khas.

“Di setiap film Yasmin selalu dibuka dengan lafaz bismillah, dan tidak terbatas pada film religi. Ini jadi bentuk kekuatan sekaligus caranya berpasrah atas kehendak Tuhan. Ini yang juga akan saya bawa pada setiap karya saya ke depan, yang dimulai dari Jadi Ngaji,” ucapnya.

***

Menarik, ya, kisah perjalanan kreator serial Jadi Ngaji yang satu ini. Dari pengacara hingga jadi sutradara. Buat kalian yang belum menonton serial Jadi Ngaji, yuk, langsung tonton saja di GoPlay! Serial ini terdiri dari 10 Episode dengan durasi sekitar 30 menit per episodenya.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.