Review Serial Andor Episode 5: Kapak Melupakan Tetapi Kayu Tidak

Review Andor (2022) Episode 5: Kapak Melupakan, Tetapi Kayu Tidak
Genre
  • Fantasy
  • Spy
  • War
Actors
  • Diego Luna
  • Ebon Moss-Bachrach
Director
  • Tony Gilroy
Release Date
  • 06 October 2022
Rating
3.5 / 5

*Spoiler Alert: Review serial ini mengandung bocoran cerita Andor episode 5 yang bisa saja mengganggu kamu yang belum nonton.

Dari episode keempat, kita sudah mulai mendapatkan tanda-tanda bahwa kelompok ini akan “ancur-ancuran”. Selain karena mereka kurang memiliki modal, seolah hanya kebencian dan senjata enggak seberapa yang menjadi senjata mereka untuk melawan Empire. 

Ini pun merupakan sesuatu yang dipertanyakan oleh Andor pada Skeen, pria yang juga bermaksud untuk melakukan perlawanan, yang tergabung dalam grup itu. Pria dengan tato itu mempertanyakan latar belakang Andor, kemudian ia menceritakan latar belakang dan kebenciannya pada empire.

“Hanya itu?,” tanya Andor.

“Untuk sementara, itu cukup…,” balasnya.

Retaknya persaudaraan sebelum dimulai

Via Istimewa

Adegan kedua dari episode kelima, The Axe Forgets yang diisi oleh Andor dan Skeen ini jelas menunjukkan kalau Andor enggak seharusnya berada di sana. Andor disambut dingin, sedingin sambutan para master kungfu kepada Po dalam Kung Fu Panda. Bedanya, di sini Andor juga dingin. Andor percaya kepada dirinya, percaya kepada keyakinannya, dan trauma masa lalu membuatnya enggak mampu membuat ruang lagi buat percaya sama orang lain.

Andor mengalami banyak rasa sakit semasa mudanya. Itulah alasan kenapa ia sangat skeptis. Begitu sulit untuknya mengobarkan semangat, walaupun mungkin sedikit dendam itu ada pada dirinya. Ia lebih kompleks dan pintar ketimbang Skeen.

Namun, di sinilah letak keributannya. Orang-orang ini terlalu naif dan kosong untuk Andor yang kompleks. Saat Skeen menyadari bahwa Andor memiliki kalung dengan kredit tinggi, ia mulai curiga. Di situlah terbongkar kepada semuanya bahwa Andor di sana enggak untuk perjuangan yang sama, melainkan hanya untuk uang.

Namun, bukan Andor namanya kalau langsung terpojok. Ia pun mengakui bahwa semua memang untuk uang. Mengembalikan “makian” yang diberikan, Andor pun mengatakan bahwa ia memang melakukannya untuk uang dan menunjuk mereka balik bahwa mereka yang justru kehilangan keberanian. Dan, para pemberontak ini akhirnya diam ketika Andor berkata kepada mereka.

“Aku memang takut. Namun, ada perbedaan besar antara takut dan kehilangan keberanian.”

Ritme lamban, masih perkenalan

Saat menonton Andor, penonton memang akan menunggu perkelahian, perlawanan, bahkan peperangan. Namun, di sinilah masalah yang akan selalu ditemukan pada serial.

Alih-alih langsung menuju ke arah klimaks, serial biasanya akan mengulur-ngulur cerita, melakukan perkenalan yang lebih dalam kepada setiap karakternya, sehingga episode pun menjadi lebih panjang dan juga para tokoh ini bisa dieksplorasi dengan lebih dalam lagi untuk menunjukkan setiap alasan dari perilaku mereka.

Inilah yang terjadi pada Andor. Penonton memang harus bersabar untuk terus menunggu kejadian-kejadian yang menghebohkan dan juga terlihat epik.

Di satu sisi ini merupakan kekuatan dari serial andor karena alasan dari para tokoh menjadi kuat bukan sekadar tempelan semata ini juga berlaku pada Syril Karn, inspektur pengejar Andor atas kejadian di Pre-Mor, yang sisi manusiawinya dieksplorasi pada episode ini. Ia menemui ibunya, yang ternyata hubungannya enggak terlalu akrab karena perbedaan generasi dan kesibukan. 

Layaknya manusia di Bumi, sang ibu pun sedikit menyindir tentang bagaimana anaknya enggak benar-benar “mengundangnya” dalam acara penting dengan kalimat semacam, “Kalau kamu membuat undangan terbuka, artinya enggak benar-benar mengundangku. Undangan terbuka itu untuk semua orang.”

Dalam interaksi dengan sang ibu, terlihat bahwa Syril dianggap sebagai generasi yang lebih lembek dan sang ibu terus-menerus memberikan wejangan pedas. Kedengarannya kata-katanya pedas, tetapi tujuam utamanya adalah menyemangati sang anak.

Para pemberontak mulai ke arah aksi, tetapi sejauh episode “The Axe Forgets” ini berjalan, aksinya masih biasa saja. Bahkan, masih kalah heboh dengan aksi episode 1. Para pemberontak ini kelihatan terlalu mentah dan terlalu sok idealis. Jelas tipikal pemberontak pada umumnya, tetapi enggak terlihat seperti yang terkuat.

Namun, setidaknya kita diperkenalkan pada Lieutenant Gorn yang merupakan double agent, agen yang bertindak sebagai komandan untuk Empire tetapi informan untuk pemberontak Aldhani. Apa yang akan terjadi? Apakah semua rencana berjalan dengan lancar ataukah justru pemberontakan akan kacau dari sisi pemberontak itu sendiri? Bagaimana dengan masalah Andor di Pre-Mor yang belum selesai?

Episode 5 memang bukan episode terbaik, tetapi masih membuat kita yakin untuk mengikuti episode selanjutnya. Setidaknya, kita masih bersemangat seperti semangat para pemberontak yang enggak pernah lupa akan rasa sakit hati mereka dan dendam mereka.

“Kapak mungkin lupa pernah menebang kayu, tetapi kayu enggak pernah lupa.”

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.