Bagaimana Cara Promosi Film yang Ideal Ala Ernest Prakasa?

– Tips ini bisa diaplikasikan oleh calon filmmaker maupun content creator, lho.
– Terdapat fitur yang bisa dimaksimalkan dalam promosi film dengan Samsung Galaxy Note20 Series.

Tahap promosi film sejalan dengan pembuatan film, mulai dari praproduksi hingga pascaproduksi. Tahap ini pun wajib memiliki strategi yang terencana untuk dapat target pasar yang tepat. Sehingga, dari film yang akan diproduksi hingga film tayang, publik mengenal filmnya dan tertarik untuk nonton di bioskop.

Dalam rangkaian kegiatan Cerita Sinema Workshop persembahan Samsung Galaxy Movie Studio 2020 dalam kolaborasinya bersama Festival Film Indonesia (FFI), Ernest Prakasa membagikan tips jitunya dalam promosi film. Nah, sebelum memulainya, kita harus tahu perbedaan marketing dengan sales terlebih dahulu.

Via Istimewa

Mengetahui perbedaan marketing dan sales pun memberi kita pemahaman strategi yang berbeda. Marketing itu dilakukan sebelum filmnya ada. “Tujuan utamanya adalah menciptakan interest lewat building image dan creating awareness,” ucap Ernest.

Sementara, tahap sales adalah mengubah ketertarikan orang menjadi pembelian alias aksi nyata. Orang-orang yang sudah tertarik dengan film kalian bisa datang ke bioskop, atau untuk film pendek bisa datang ke kanal YouTube kalian untuk nonton filmnya.

Tips yang dibagikan Ernest ini tak hanya cocok untuk para calon filmmaker, tapi juga para kreator konten. Langsung saja, simak tips promosi film ala Ernest Prakasa secara online dan offline di bawah ini.

Pahami Keunikan Suatu Karya

Via Istimewa

Sebelum memproduksi film, kita harus tau apa keunikan dari karya yang akan kita buat. Ernest menyampaikan lima elemen keunikan (unique selling point) yang bisa kita gali, yakni Intellectual Property (IP), cerita, karakter, lokasi, dan genre. Lima elemen ini bisa dijadikan ujung tombak dari strategi marketing yang akan dijalani.

Menurut Ernest, kalau sebuah karya yang dari awal sudah direncanakan matang, hal-hal yang sebenarnya komponen marketing atau unique selling point, bisa direncanakan sejak pembuatan skenario. Meskipun ada yang berpendapat bahwa itu akan mencederai kemurnian karyanya. "Enggak ada yang bener atau salah, film indie atau bukan, tetep aja kalau kita mikirnya jauh, kita tahu ‘oke saya mau promosi nanti seperti ini, jadi filmnya saya siapin begini’ enggak ada yang salah dengan itu,” ungkap sutradara sekaligus komika ini.

Intellectual Property (IP) menunjukkan apakah film ini berdasarkan atas sesuatu yang sudah ada, seperti novel, komik, atau karya tulis lainnya. Contohnya, film Wiro Sableng 212 (2018) yang diadaptasi dari buku karya Bastian Tito sudah ada sejak 1967, atau film Gundala (2019) yang diadaptasi dari komik karya Hasmi yang IP-nya dimiliki oleh Bumilangit Studios.

Via Istimewa

Kemudian, elemen cerita juga bisa jadi dasar promosi film. Biasanya, elemen ini digunakan untuk film-film drama, seperti Janji Joni (2005) yang ceritanya fokus pada seorang pengantar roll film. Bahkan, terkadang cerita bisa digabungkan dengan elemen karakter, seperti film superhero. Perbedaannya, elemen karakter biasanya ada di film-film aksi. Contohnya film The Raid (2011) atau The Night Comes for Us (2018).

Lalu, elemen lokasi yang menunjukkan bahwa film tersebut syuting di tempat yang enggak biasa. Misalnya, ada film yang syuting di kawasan Alas Roban. Lewat poster dan trailernya kita diperlihatkan keangkeran dari jalur tengkorak Jawa Tengah tersebut, yang bisa jadi unique selling point untuk bikin publik tertarik.

Terakhir, soal genre yang juga bisa jadi poin dasar marketing film. Ernest memberi contoh film Ghost Writer (2019) yang mengusung komedi horor. Mengingat, genre tersebut masih jarang ada di Indonesia. Atau genre slasher seperti film Rumah Dara (2006). Nah, lima elemen ini bisa jadi acuan dalam promosi film dan dipersiapkan matang bahkan sejak praproduksi.

Bangun Awareness di Media Sosial lewat Meme atau Komik

Via Dok. Starvision Plus

Harus diakui sosial media menjadi salah satu tool cepat dalam menyebarkan informasi. Ada beberapa jenis konten yang bisa ditampilkan, antara lain poster, video, meme, dan berbagai konten kreatif lainnya.

Lewat poster, kita bisa menampilkan poster film, teaser poster, poster karakter, dan poster testimonial. Jika masih kurang, bisa pakai meme dalam bentuk video atau foto. Nah, salah satu trik dari Ernest, yakni dia lebih memilih untuk enggak membuat teaser poster.

“Saya pribadi agak jarang bikin teaser poster karena yang terjadi saat ini adalah ketika official poster sudah rilis, yang naik di media masih teaser posternya. Padahal official posternya sudah merangkum informasi lengkap,” curhatnya.

Film Imperfect (2019) merupakan film pertama Ernest yang menggunakan teaser poster, karena baginya baik official poster maupun teaser-nya dibuat sama kuatnya. Nah, dalam Imperfect, Ernest Prakasa menggunakan semua jenis konten. Terutama soal meme yang sebenarnya jarang dilakukan dalam promosi film Indonesia lainnya. Tak hanya itu, Imperfect juga menggunakan komik 2—4 panel dalam masa promosinya.

Via Istimewa

Tak sulit jika kalian ingin meniru cara Ernest mempromosikan filmnya lewat meme atau komik. Bikin komik atau meme terasa mudah dengan S Pen dari Samsung Galaxy Note20 Series. Serasa menggambar di atas kertas berkat refresh rate tinggi dan latensi rendah yang bikin respons layar lebih cepat. “Apalagi ada suara kertasnya, ‘kan, makin terasa seperti kertas,” ucap Ernest sambil tertawa.

Kalian enggak perlu menyiapkan drawing tablet untuk menggambar, lalu PC besar dengan berbagai aplikasi edit gambar untuk mewarnai. Selain mudah dan praktis, dengan S Pen, produktivitas kalian bakal lebih menghemat waktu.

Promosi Pakai Video yang Eye Catching

Selain promosi pakai poster atau gambar 2D, lewat video juga bisa kita bikin publik makin penasaran dengan karya yang dibuat. Contohnya seperti teaser, trailer, dokumentasi behind the scene, interview, testimonial, atau video featurette.

Nah, ada satu tool yang mempermudah kalian bikin promosi film dengan video adalah kamera di Galaxy Note20 Series. Kamera perekaman 8K tersebut juga punya fitur canggih saat merekam video. “Yang paling mind-blowing buat saya, ketika kita ngerekam video, ini berguna buat filmmaker, lho! Kita bisa switch kamera in the middle of the video. Ganti lensa depan ke belakang di tengah-tengah merekam video, lho, keren banget ini!” cerita Ernest sambil tertawa.

Fitur ini bisa digunakan untuk merekam apa pun di area syuting yang nantinya bisa menghasilkan footage behind-the-scene berkualitas tinggi untuk materi promosi lain daripada yang lain. Enggak perlu beli atau sewa kamera besar yang malah bikin overbudget dan menyulitkan proses syuting, cukup maksimalkan fitur-fitur luar biasa dari Samsung Galaxy Note20 Series.

Bikin Acara Offline

Meski kalian sudah memaksimalkan promosi di media sosial dengan meme atau video, promosi secara offline tak boleh ditinggalkan. Terlebih di zaman digital ini, semua orang mempublikasikan sesuatu di media sosialnya. Nah, dengan adanya acara offline, akan memperluas jangkauan dan memberikan rasa antusias yang berbeda. Bahkan, akhirnya akan terbangun awareness secara online dan offline.

Offline activities cukup penting dilakukan, karena kegiatan offline kita bisa membuahkan hasil di online. Misalnya, kita ngadain screening walaupun yang datang cuma 50 orang, tapi semuanya posting di media sosial dan ngasih efek luas,” kata pria berzodiak Aquarius tersebut.

Apa saja yang bisa dilakukan? Kalian bisa mengadakan roadshow di tempat-tempat sesuai target pasar. Contohnya, film yang dibuat diperuntukkan untuk 17 tahun ke atas, akan lebih baik jika mengadakan roadshow di kampus-kampus. Atau, jika film kalian untuk semua usia, bisa mempromosikannya di mal-mal, karena pengunjungnya dari berbagai kalangan usia.

Selain roadshow, demi menjangkau publik yang lebih luas, bisa melakukan media visit. Bikin kolaborasi konten dengan media lokal atau media mainstream. Tak perlu berkecil hati jika kalian filmmaker indie, banyak media lokal yang siap mendukung publikasi film kalian. Terakhir, ada cinema visit yang barangkali lebih cocok untuk publikasi film-film yang akan tayang bioskop.

***

Ernest Prakasa juga menekankan bahwa di kondisi pandemi seperti saat ini, media sosial menjadi sarana paling efektif dalam melakukan promosi film. Kita harus bisa mengemas dengan semenarik mungkin dalam waktu yang cukup singkat dan terbatas.

Pesan Ernest, bagaimanapun cara promosinya, hal yang paling esensial adalah kontennya itu sendiri. “Pada akhirnya, cara marketing yang paling jitu dan akan secara otomatis berjalan sendiri adalah word of mouth atau cerita dari mulut ke mulut, dan ini dapat tercipta dari konten yang bagus,” tutupnya.

Via Istimewa

Samsung Galaxy Note20 series hadir sebagai tool pembuatan materi promosi. Dengan fitur single-take, bisa digunakan untuk materi promosi. Dalam satu kali take, kita dapat menghasilkan video, gif, hingga gambar dengan dan tanpa filter sekaligus. Fitur ini berikan efisiensi waktu, praktis, hanya dengan satu perangkat tanpa mengorbankan kualitas gambar.

Bagaimana pendapatmu soal promosi film ala Ernest Prakasa dalam Workshop Samsung Galaxy Movie Studio 2020 di atas? Makin percaya diri, dong, untuk menggaungkan karya kalian?

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.