Review Film Bara ‘The Flame’ (2021)

The Flame
Genre
  • Dokumenter
Actors
Director
  • Arfan Sabran
Release Date
  • 29 December 2021
Rating
3.5 / 5

*Spoiler Alert: Review film Bara ‘The Flame’ ini mengandung bocoran yang bisa saja mengganggu kalian yang belum menonton.


Film adalah wadah ekspresi untuk menyikapi berbagai isu yang menarik perhatian para pembuatnya. Tidak heran, lewat Bara ‘The Flame’, Arfan Sabran menyampaikan kegelisahan hatinya soal permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.

Sutradara yang berfokus pada film dokumenter ini mengajak para penonton untuk memahami makna penting soal hutan adat. Sebagai simbol kehidupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan, hutan adat sangat penting dijaga kelestariannya.

The Flame merupakan film dokumenter panjang pertama yang disutradarai oleh Arfan Sabran. Film yang diproduseri Gita Fara ini telah tayang di Vision du Reel Film Festival di Swiss pada April 2021, DMZ Documentary Film Festival di Korea pada September 2021, dan Bifed, Ecology Film Festival di Turki pada Oktober 2021. Selanjutnya, film dokumenter ini juga akan tayang perdana di Jogja NETPAC Asian Film Festival 2021 dan di Singapore International Film Festival pada akhir November ini.

Beberapa waktu lalu, KINCIR berkesempatan untuk nonton film ini. Berikut adalah review film Bara ‘The Flame’ versi KINCIR:

Review film The Flame

Pendekatan personal yang menyatukan penonton dengan isunya

Film dokumenter ini dibuka dengan keseharian Pak Iber Djamal (77 tahun), yang merupakan suku Dayak asli. Ia hidup di sebuah desa kawasan Hutan Adat Basarak, Kalimantan Tengah. 

Bagi Pak Iber, hutan adalah tempat manusia dan hewan lainnya bernaung. Di dalamnya, terdapat banyak pohon besar nan rimbun yang menaungi pohon kecil lainnya. Sama seperti hpara orang tua yang jadi pelindung anak-anaknya atau para penguasa yang seharusnya melindungi rakyatnya.

Nilai itu juga yang kini tengah ia perjuangkan, di tengah banyaknya kepentingan yang ingin menguasai hutan adat. Satu juta hektar hutan hujan Kalimantan dihancurkan untuk Proyek Beras Mega sejak tahun 90-an. Pak Iber merupakan salah satu masyarakat adat yang menentang keras proyek ini. Ia terus mengejar satu-satunya cara legal untuk melindungi hutan dengan mendapatkan sertifikat hutan adat yang sah untuk sisa hutan di wilayahnya.

Pembakaran hutan terjadi di mana-mana, membuat daerah sekitar dipenuhi asap. Beberapa daerah hutan pun diklaim berbagai pihak, sehingga kondisi hutan yang dulunya jadi milik bersama kian terbatas.

Sangat menarik bahwa ide untuk mendapatkan pengakuan hukum atas Hutan Adat Basarak datang dari sosok renta. Bersama dengan tim kecilnya, mereka merumuskan bagaimana agar Hutan Adat tidak lagi bisa diklaim milik penguasa tertentu. Hutan Adat adalah milik mereka yang bernaung di sekitarnya.

Pak Iber harus melawan segala keterbatasannya untuk tetap melangkah. Usianya sudah renta, badannya yang telah goyah, bahkan ia tak mampu mengoperasikan perangkat komputer. Kendati demikian, ia dituntut untuk bepergian dan mengurus banyak dokumen agar Hutan Adat Basarak tetap lestari.

Sementara waktu terus berjalan, pembakaran hutan terjadi di mana-mana. Kondisi hutan yang dulunya jadi milik bersama, jadi terbatas. 

Laiknya penggambaran soal hutan pada awal film, Pak Iber harus menjadi sosok yang kokoh untuk melindungi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari Hutan Adat. Ia harus berlari mengejar waktu, sementara keluarganya pun mulai merasa kehilangan sosok pemimpin keluarga karena kesibukannya.

Menyentil isu deforestasi di Indonesia

The Flame tak hanya menceritakan tentang perjuangan nyata Pak Iber Djamal mempertahankan hutan adatnya, tapi juga permasalahan lingkungan hidup di Indonesia yang semakin kritis. 

Lebih dari itu, kondisi masyarakat dekat hutan yang jauh dari akses penting seperti pendidikan dan teknologi, bikin kondisi makin sulit. Coba bayangkan bagaimana masyarakat yang minim fasilitas ini harus berjuang melawan mereka yang didukung banyak fasilitas serta uang. 

Kondisi ini juga digambarkan ketika Pak Iber mengajak warga sekitar hutan untuk membicarakan rencananya. Banyak dari mereka yang telah menyerah, skeptis, karena merasa mereka tidak punya kekuatan sama sekali untuk melawan.

Itu juga yang terjadi ketika sedikit demi sedikit tanah mereka hilang, diklaim orang lain. Hampir setiap hari ada kebakaran hutan, entah sumber apinya dari mana. Di televisi, para pejabat sibuk menyampaikan perhatian mereka terhadap isu tersebut, namun akhirnya hanya warga yang turun langsung mematikan sumber api.

Termasuk Pak Iber yang bahkan dengan kakinya sendiri, berusaha mematikan setiap api yang menggerogoti tanah mereka.

Tentunya ini menjadi sentilan untuk pemerintah untuk tetap mempertahankan kelestarian hutan Indonesia melawan kepentingan apapun, termasuk kepentingan bisnis. Bagaimana pemerintah seharusnya peduli dengan segala lapisan masyarakat, tak hanya di kota, tapi juga hingga ke pelosok hutan.

Dialog yang terkesan sangat ‘script’

Sosok Pak Iber memang terasa sangat bijak. Tak hanya untuk keluarganya, tapi juga untuk masyarakat sekitar. Setiap percakapan yang ia lakukan pun jadi fokus tersendiri, sehingga pasti terbesit di pikiran kita kalau dialognya terasa sangat ‘script’.

Ada banyak dialog indah dalam The Flame. Ini menjadi dua sisi koin; satu sisi menjadikan The Flame terasa nilainya sementara di sisi lain sedikit menurunkan sisi dokumenternya. 

Kendati demikian, setiap dialog akan membuat kita lebih terhanyut dalam isunya. Tentu ini yang diharapkan semua penggagas film, agar kita yang menonton jadi terbuka matanya dan peduli terhadap isu kelestarian hutan di Indonesia.

***

Bara ‘The Flame’ merupakan film dokumenter yang seharusnya kita tonton agar melek isu yang mungkin enggak pernah ada di pikiran kita. Dengan menonton film dokumenter ini, kamu pasti jadi sadar kalau tanggung jawab manusia terhadap lingkungannya sangatlah penting. 

Bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita kelak. Sama seperti pohon besar yang menaungi berbagai makhluk hidup kecil di bawahnya.

Itu dia review film Bara ‘The Flame’. Jadii punya beberapa alasan kan, untuk nonton film dokumenter ini? Buat kamu yang udah nonton, jangan lupa untuk kasih komentarmu juga! Yuk, jaga terus hutan Indonesia!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.