7 Poin Sinetron Indonesia era 1990-an yang Dikangenin

Ada beberapa hal dari sinetron Indonesia tahun 1990-an yang bikin kita kangen karena sekarang sudah hilang. Apa aja?


Generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an awal kini sudah memasuki masa kepala tiga. Makanya, manusia-manusia generasi 1980 dan 1990an kerap kangen sama banyak hal yang mereka rasakan di usia kanak dan remaja, salah satunya sinetron Indonesia.

Mengawali keberadaan beberapa TV swasta di Indonesia, ada banyak hal pada sinetron masa 1990-an yang udah enggak ada lagi sekarang! Kangen, enggak, sama hal-hal ini?

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin

1. Sentuhan Fantasi yang Menyenangkan

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin
Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin Via Istimewa.

Sekarang, memang masih ada beberapa sinetron yang mengusung konsep fantasi. Namun, jumlahnya enggak sebanyak pada dekade 1990-an. Zaman dulu, sinetron-sinetron beken banyak yang bertema fantasi. Contohnya, nih, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny Oh Jinny, Si Manis Jembatan Ancol, Gerhana, Panji Manusia Millenium, Anak Ajaib, dan Jin dan Jun.

Sinetron-sinetron fantasi ini enggak menyebalkan kayak sinetron stripping karena masalah bakal selesai dalam satu episode, ceritanya kocak, dan bikin kita merasa segar karena dengan menontonnya, kita bisa escape dari dunia nyata yang membosankan dan tanpa keajaiban.

2. Bintang Sinetron yang Eksklusif

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin
Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin Via Istimewa.

Zaman sekarang, mudah banget, nih, mendapatkan gosip-gosip pemain sinetron terkini. Di mana aja mereka berada, selalu aja kamera akan mengikuti. Akun-akun gosip amat sangat mudah mendapatkan kabar terkini para pemain dari “orang dalam” yang notabene punya ponsel berkamera semua.

Selain itu, para pemain sinetron zaman sekarang juga memiliki akun Instagram. Beberapa di antara mereka bahkan enggak segan membagikan momen kehidupan mereka hampir 24 jam! Bagaimana dengan pemain sinetron 1990-an? Cuma ada TV, tabloid, dan koran yang bisa dijadikan penjembatan informasi antara mereka dan penonton, sehingga sosok mereka terjaga eksklusivitasnya.

Memang, sih, semua orang bebas membagikan momen di media sosial. Namun, akan lebih baik kalau sebagai selebritas, mereka harus membatasi mana hal-hal yang bisa dibagi, mana yang sebaiknya enggak perlu terlalu diumbar. Contohnya, kayak kehidupan pribadi, kemesraan sama pasangan, pemikiran, kemarahan, atau pertengkaran.

 

3. Tema yang Variatif

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin
Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin Via Istimewa.

Kalau boleh jujur, sinetron 1990-an lebih variatif dari segi tema. Soalnya, TV dan radio adalah hiburan utama masyarakat. Selain itu, TV swasta juga belum lama lahir, sehingga ide-ide yang dieksplorasi pun lebih variatif dan enggak cuma mikirin masalah iklan atau rating. Sekarang, persaingan stasiun-stasiun TV semakin ketat.

Jadi, background karakter-karakter juga dieksplorasi dengan lebih mendalam Contohnya, seperti karakter mahasiswa kedokteran dalam sinetron Cinta, cerita tentang anak broken home dalam sinetron Noktah Merah Perkawinan, bahkan cerita tentang betapa susahnya mencari kerja walaupun sudah menyandang gelar sarjana di dalam sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan.

Sementara itu, mayoritas sinetron zaman sekarang kurang kuat dalam penggambaran background para karakternya. Kebanyakan, background karakter hanya sebagai tempelan belaka. Karier dan identitas mereka enggak dieksplorasi dan lebih mementingkan konflik-konflik yang berlebihan ketimbang karakterisasi.

 

4. Kumis yang Tebal

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin
Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin Via Istimewa.

Zaman sekarang, kumis yang tebal jarang terlihat pada sosok karakter-karakter cowok di sinetron. Hal ini enggak terlepas dari stereotip bahwa kumis yang terlalu tebal menandakan bahwa seseorang adalah bapak-bapak jadul. Bahkan, sosok “bapak” di sinetron zaman sekarang jarang banget yang berkumis tebal.

Ini tentu berbeda sama zaman dulu, ketika cukup banyak karakter dengan kumis yang tebal. Misalnya, seperti karakter Harry Dewanto (Sophan Sophiaan) dalam sinetron Abad 21, Si Doel (Rano Karno) dalam Si Doel Anak Sekolahan, dan Priambodo (Cok Simbara) dalam Noktah Merah Perkawinan.

5. Episode yang Padat

Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin
Adegan Sinetron Indonesia Era 1990-an yang Dikangenin Via Istimewa.

Hal yang bikin seneng dari sinetron-sinetron sebelum Tersanjung adalah episode yang enggak bertele-tele. Semenjak Tersanjung hadir dengan musim tayang panjang, sinetron-sinetron Indonesia pun mulai berbondong-bondong hadir dengan episode ratusan.

Sayangnya, episode yang banyak itu pake sistem bersambung, bukan sistem satu episode selesai. Hasilnya, plot sinetron menjadi berantakan, jauh banget dari rencana awal. Coba, kalau sinetron-sinetron Indonesia zaman sekarang padat dan terstruktur kayak Keluarga Cemara atau Tersayang, pasti bakal lebih enak ditonton.

 

6. Iklan yang Enggak Vulgar

Si Doel Anak Sekolahan
Si Doel Anak Sekolahan Via Istimewa.

Penyakit lain dari sinetron zaman sekarang adalah iklan-iklan yang terlalu “vulgar”. Ini maksudnya bukan berarti enggak sesuai dengan norma kesopanan, tetapi terlalu gamblang yang memperlihatkan produk, baik lewat aktivitas tokoh, dialog kaku, mau pun lewat banner yang tiba-tiba muncul dan mengganggu adegan.

Zaman dulu, iklan yang ada di dalam sinetron enggak se “vulgar” ini. Mungkin zaman sekarang, tuntutan untuk bisa meraih pendapatan sebanyak-banyaknya semakin berat, sehingga segala cara dilakukan demi menyenangkan sponsor, termasuk mempertontonkan iklan di dalam sinetron secara asal-asalan sehingga mengganggu dan sinetron menjadi enggak artistik.

 

7. Tanpa Gary Stu dan Mary Sue

Cinta
Cinta Via Istimewa.

Disebabkan latar belakang karakter yang kaya dan dalam, sinetron-sinetron era 1990-an enggak menampilkan karakteristik Mary Sue dan Gary Stu. Kedua istilah ini menggambarkan kondisi di mana tokoh cowok mau pun cewek di dalam cerita digambarkan terlalu sempurna sehingga menjadi enggak nyaman untuk ditonton.

Zaman sekarang, tokoh-tokoh protagonis selalu digambarkan sangat sempurna. Bahkan dalam beberapa sinetron, tokoh tokoh protagonis ini juga digambarkan terlalu bodoh sehingga kerap mendapatkan siksaan dari tokoh jahat yang jahatnya kebangetan.

Doel
Doel Via Istimewa.

Sinetron zaman dulu, contohnya seperti Cinta yang dibintangi sama Desy Ratnasari dan Primus Yustisio enggak menggambarkan tokoh utama sebagai tokoh yang sempurna. Bahkan, tokoh utama menjadi menyenangkan dengan segala kekurangan dan juga kesalahan yang ia perbuat.

Lalu, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan,  Si Doel merupakan orang yang baik, berpikiran maju, berpendidikan, dan juga sederhana. Namun, ia memiliki beberapa kekurangan, salah satunya adalah Si Doel enggak pernah tegas sama jalan hidupnya dan sama pilihannya.

***

Hmm, jadi kangen, ya, sama sinetron 1990-an? Kita berharap rasa kangen ini terobati dengan semakin banyaknya sinetron 1990-an yang diputar ulang di platform video on demand anak bangsa. Atau, kalau produser sinetron mau membuat sinetron zaman sekarang dengan formula ala 1990-an, kayaknya kece juga, tuh!

 

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.