(REVIEW) The Sacred Riana: Beginning (2019)

The Sacred Riana: Beginning
Genre
  • horor
Actors
  • Angrean Ken
  • Brooklyn Alif Rea
  • Carlos Camelo
  • Ciara Nadine Brosnan
  • Citra Prima
  • Jessiana Marriera Pariston
  • Prabu Revolusi
  • The Sacred Riana
  • Willem Bevers
Director
  • Billy Christian
Release Date
  • 14 March 2019
Rating
5 / 5

*(SPOILER ALERT) Artikel ini mengandung sedikit bocoran yang semoga saja enggak mengganggu buat kalian, ya.

Nama Riana mulai terdengar di belantika dunia hiburan lepas menjadi juara di ajang Asia’s Got Talent pada 2017 lalu. Jauh sebelum mengikuti ajang bergengsi tersebut, pesulap dengan nama asli Marie Antoinette Riana Graharani ini udah hadir di kompetisi pencarian bakat besutan Deddy Corbuzier, The Next Mentalist pada 2013 lalu.

Memiliki persona sebagai pesulap dengan aliran bizarre illusionist yang menebarkan horor, rumah produksi Nant Entertainment menghadirkan film yang menceritakan latar belakang dari Riana. Apa saja yang akan kalian dapatkan dari film besutan Billy Christian ini?

KINCIR udah nyiapin ulasannya! Supaya lebih seru, bagaimana kalau kalian baca pembahasan di bawah sambil putar lagu "Kenanglah Aku" dari Astrid yang sekaligus menjadi OST The Sacred Riana: Beginning. Setuju? Yuk, langsung aja kalian simak ulasan di bawah!

 

Bukan Film Biopik

Berbeda dengan sebagian besar persepsi penikmat layar lebar, film The Sacred Riana: Beginning bukanlah film biografi. Jadi, patut dicatat, semua yang terjadi di film ini enggak berdasarkan kisah nyata.

Oke, sekarang KINCIR masuk ke pembahasan ceritanya.

Dari awal udah terlihat, Billy selaku sutradara ingin menggambarkan sosok Riana yang jauh dari pergaulan. Kerap dirisak, Riana kecil (Jessiana Marriera Pariston) dihadirkan sebagai individu yang jarang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, Januar (Prabu Revolusi) dan Irma (Citra Prima). Di rumahnya, Riana kerap melihat pelbagai penampakan gaib. Mulai dari pocong sampai suster ngesot.

Dalam satu momen, kebakaran menghanguskan tempat tinggal Riana. Untuk sementara, Januar mengajak keluarganya untuk menginap di  rumah Johan (Willem Bever), paman dari Riana. Memiliki kesibukan sebagai kolektor benda antik, Johan memberitahukan bahwa dia akan pergi dari rumah selama beberapa waktu.

Enggak diduga, Johan mengalami kecelakaan dan kehilangan nyawa, meninggalkan rumah beserta isinya di tangan Januar. Dari luar, rumah Johan sudah tampak menyimpan aura misterius. Dalam pesannya sebelum tewas, Johan sempat mewanti-wanti agar jangan pernah memasuki area gudang.

Beranjak dewasa, Riana tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Khawatir dengan kondisi Riana, Bu Klara (Aura Kasih) bermaksud untuk menolong. Membawa Hendro (Angrean Ken), Lusi (Agatha Chelsea), dan Anggi (Ciara Nadine Brosnan) ke rumah Riana, Bu Klara ingin membantu Riana untuk bersosialisasi dengan sesama anak indigo.

Dalam usahanya, ternyata ada satu sosok gaib dari masa lalu berjuluk yang mengancam jiwa mereka semua. Bisakah Riana dan kawan barunya lolos dari bahaya? Kurang lebih, begitu ceritanya. Kalau mau tahu lanjutannya, nonton saja filmnya.

 

Antagonis Berupa Hantu Era Kolonial Belanda, Enggak Berhasil Memikat

Sebagai antagonis utama, sosok Bava Gogh (Carlos Camelo) sebenarnya punya potensi untuk menjadi karakter yang menarik. Hantu yang satu ini berasal dari masa lalu. Diceritakan, Bava Gogh hidup di era kolonial Belanda dan sering membunuh gadis cilik yang menarik hatinya. Berhasil ditangkap, pembunuh berantai satu ini dieksekusi dan berubah menjadi arwah penasaran.

Ketika mengganggu Riana dan karakter lain, Bava Gogh enggak berhasil menghadirkan kesan yang memikat. Malahan, antagonis satu ini terasa sangat mengganggu. Bisa kalian bayangkan, sosok hantu satu ini ketika ingin meneror karakter lain, berbicara dengan bahasa Indonesia khas bule. Bukannya menimbulkan efek seram, kehadiran Bava Gogh justru menjadi hal yang sedikit menggelitik.

Di balik kegagalan menghadirkan efek menyeramkan, film ini patut diapresiasi berkat keseriusan dalam aspek wardrobe dan tata rias. Sosok Bava Gogh ditampilkan penuh dengan taring tajam dan mengenakan pakaian khas era kolonial Belanda.

 

Banyak Keanehan, Enggak Mengikuti Logika

Sebelum membahas lebih jauh, mungkin kita perlu mengingat dulu bahwa dalam sebuah film fiksi bertema horor, logika enggak terlalu dipentingkan. Aksi para karakter di The Sacred Riana: Beginning pun sama sekali enggak mencerminkan hal yang masuk di akal.

Pentingnya menampilkan adegan yang mudah diterima oleh penonton adalah demi menimbulkan efek simpati dan berujung rasa penasaran akan jalannya cerita. Sangat disayangkan, The Sacred Riana: Beginning enggak berhasil membuat penonton simpati kepada karakter yang dihadirkan.

Seperti yang sudah disebut di atas, Johan memberikan peringatan untuk enggak memasuki gudang yang berisikan benda mistis. Sudah ketebak, pasti ujung-ujungnya gudang tersebut akan terjamah juga, menyebabkan kekuatan jahat di dalamnya berhasil keluar dan menebar teror. Akan tetapi, motivasi yang digambarkan bagi karakter di film ini untuk memasuki area gudang enggak kuat.

Dalam adegan lain, Bu Klara diceritakan berusaha untuk menghipnotis Riana untuk bisa melepaskan pengaruh Riani si boneka. Ketika momen hipnotis berlangsung, efek penglihatan berbayang diberikan kepada sosok Riana. Jika adegan ini mengambil treatment POV (point of view), harusnya sosok Bu Klara yang berbayang di penglihatan Riana. Mungkin bukan hal yang krusial, namun tetap saja hal ini terasa mengganggu.

Ketika mendekati babak akhir, diceritakan Bava Gogh berhasil menangkap salah satu karakter. Untuk menyajikan efek dramatis, karakter tersebut (nama dirahasiakan) menyuruh Riana dan Bu Klara untuk pergi. Enggak diduga, Bu Klara langsung angkat kaki dan meninggalkan sosok tersebut, membiarkan dia mati.

Hal ini terasa sangat aneh. Patut diingat, sosok Bu Klara digambarkan sebagai karakter yang sangat peduli dan rela menolong. Adegan tersebut seakan membuyarkan character development  yang sudah dibangun dari awal film.

Mendekati akhir film, salah satu tokoh berhasil mengalahkan Bava Gogh dengan sebuah cara. Padahal sebelumnya enggak ada informasi yang dihadirkan tentang cara mengenyahkan sosok antagonis utama tersebut. Hal ini sangat menantang logika dan sukar untuk diterima.

Masih banyak hal ganjil yang terdapat di film ini, namun KINCIR enggak akan mengulas semuanya. Lebih baik kalian saja yang temukan sendiri lalu ceritakan di sini!

***

Mengusung nama Riana yang mendunia dalam sebuah film bertema horor, tentu membuat ekspektasi yang lebih bagi para penikmat layar lebar. Sangat disayangkan, rasa penasaran yang sudah tinggi enggak terbayarkan setelah menonton The Sacred Riana: Beginning.

KINCIR enggak merekomendasikan film ini bagi kalian penyuka film bertema horor. Satu lagi yang patut diingat, jangan berekspektasi lebih setelah memutuskan untuk menonton The Sacred Riana: Beginning yang rilis pada 14 Maret 2019. Setelah menyimak film ini, jangan lupa untuk kasih ulasan versi kalian di kolom ulasan pada bagian atas artikel ini, ya!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.